
Dunia teknologi kembali dihebohkan oleh langkah salah satu raksasa elektronik, LG. Sejumlah pemilik TV Pintar LG melaporkan bahwa aplikasi Artificial Intelligence (AI) Microsoft Copilot tiba-tiba muncul di layar utama mereka setelah pembaruan perangkat lunak terbaru. Yang menimbulkan kekecewaan besar adalah kenyataan bahwa aplikasi ini tampaknya menjadi fitur permanen yang tidak dapat dihapus.
Kekecewaan Pengguna: AI yang Dipaksakan
Kemunculan aplikasi AI yang tidak diumumkan sebelumnya ini memicu gelombang kritik dari komunitas pengguna. Banyak yang melihatnya sebagai contoh terbaru bagaimana industri teknologi ‘memaksakan’ integrasi AI kepada konsumen yang tidak secara eksplisit memintanya.
Menurut laporan dari salah satu pemilik TV LG di forum Reddit, aplikasi Copilot ini tidak menyediakan opsi ‘Hapus’ (Delete). Komentar lain menyatakan, “Ketika sesuatu didorong sekeras ini, rasanya mulai menjengkelkan.” Sentimen ini mencerminkan resistensi terhadap perangkat lunak yang disematkan secara paksa dan memonopoli ruang di antarmuka pengguna.
Meskipun integrasi AI pada perangkat rumah tangga seharusnya bertujuan untuk meningkatkan pengalaman pengguna, ketiadaan kontrol atas perangkat lunak yang terinstal menjadi titik konflik utama.
Janji Integrasi dan Kedatangan yang Senyap
Integrasi Copilot ke dalam ekosistem TV Pintar sebenarnya bukan kejutan total, meskipun waktu kedatangannya di TV LG cukup mendadak. LG dan Samsung, dua pemain utama di pasar TV, sama-sama mengumumkan rencana integrasi Copilot mereka pada Januari 2025 dalam konferensi teknologi CES.
Saat itu, LG menyoroti Copilot sebagai nilai tambah baru bagi TV OLED evo terbaru mereka. Namun, sejak pengumuman tersebut, informasi mengenai implementasi lanjutan hampir tidak terdengar, hingga aplikasi tersebut tiba-tiba muncul di layar pengguna.
Sementara itu, pesaing utama LG, Samsung, telah lebih dulu menginstal aplikasi Microsoft Copilot pada jajaran TV pintar 2025 mereka sejak akhir Agustus. Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk berinteraksi dengan AI melalui tombol mikrofon pada remote TV.
Apa yang Ditawarkan Copilot?
Integrasi Copilot dirancang untuk meningkatkan interaksi pengguna dengan konten yang ditonton. Beberapa fungsi yang dapat dilakukan Copilot meliputi:
- Ringkasan acara (show recaps) atau film yang sedang berjalan.
- Rekomendasi konten berdasarkan preferensi tontonan.
- Permintaan trivia, seperti menanyakan “Siapa pengisi suara untuk karakter itu?”
Secara teori, fitur-fitur ini berpotensi menjadi tambahan yang berguna dalam pengalaman menonton, asalkan aplikasi tersebut berfungsi sesuai yang diiklankan dan tidak menghambat kinerja TV.
Masalah Teknis dan Keterbatasan
Berdasarkan analisis teknis, aplikasi yang muncul di layar utama LG bukanlah aplikasi bawaan (native application) yang awalnya dijanjikan oleh LG, melainkan hanya berfungsi sebagai pintasan (shortcut) ke antarmuka Copilot berbasis web, sebagaimana dilaporkan oleh Tom’s Hardware. Ikon pintasan ini tampak disematkan secara permanen di layar beranda (homescreen).
Namun, inti permasalahannya bukan terletak pada fungsionalitas aplikasi tersebut, melainkan pada permanensinya. Pengguna tidak dapat menghapus atau menyembunyikan ikon Copilot tersebut.
Dilema Pengguna: Antara AI dan Koneksi Internet
Satu-satunya cara yang dilaporkan pengguna agar ikon Copilot hilang dari layar utama adalah dengan memutuskan koneksi internet TV. Namun, solusi ini datang dengan konsekuensi serius. Memutuskan sambungan internet dapat menonaktifkan beberapa fitur penting TV pintar dan, yang lebih krusial, mencegah TV menerima pembaruan perangkat lunak di masa mendatang—termasuk pembaruan keamanan dan perbaikan bug.
Hingga saat ini, LG belum memberikan pernyataan resmi mengenai kedatangan aplikasi Copilot di TV mereka, dan perusahaan tersebut tidak menanggapi permintaan komentar mengenai masalah ini. Keheningan LG semakin memperburuk frustrasi pengguna yang merasa kehilangan kendali atas perangkat keras yang mereka miliki.
Situasi ini membuka kembali diskusi tentang batas antara kenyamanan teknologi dan otonomi konsumen dalam mengelola perangkat digital mereka. Apakah AI harus menjadi opsi, atau sebuah kewajiban?

