
Selama lebih dari satu dekade, Synology telah mendominasi industri Network Attached Storage (NAS) dengan ekosistem perangkat lunak yang matang dan kemudahan penggunaan yang sering disamakan dengan “Apple-nya dunia penyimpanan data”. Namun, belakangan ini terjadi pergeseran tren di mana para pengguna setia yang telah menggunakan produk mereka selama belasan tahun mulai melirik kompetitor baru seperti Ugreen.
Artikel ini akan membedah alasan utama di balik transisi para loyalis ini, mulai dari kesenjangan perangkat keras hingga kebijakan perusahaan yang kontroversial.
1. Kesenjangan Performa dan Nilai Perangkat Keras
Keluhan utama yang memicu migrasi ini adalah “pajak Synology” (Synology Tax) yang dirasa tidak lagi sebanding dengan spesifikasi yang ditawarkan. Synology dinilai sering merilis perangkat baru dengan komponen yang sudah tertinggal beberapa generasi dibandingkan kompetitornya.
- Prosesor Jadul: Sebagai contoh, model Synology DS225+ yang dirilis tahun 2025 masih menggunakan Celeron J4125 keluaran tahun 2019 dengan RAM hanya 2GB. Sebaliknya, kompetitor seperti Ugreen menawarkan model DXP 2800 dengan prosesor Intel N100 keluaran 2023 dan RAM 8GB DDR5 dengan harga yang lebih murah.
- Networking yang Terbatas: Banyak pengguna kecewa karena Synology masih sering menyertakan port Ethernet 1Gb atau 2.5Gb di saat kompetitor sudah memberikan port 10Gb sebagai standar bawaan tanpa biaya tambahan.
- Masalah Transcoding: Beberapa model terbaru Synology beralih ke CPU Ryzen yang tidak mendukung hardware transcoding, sebuah langkah mundur bagi pengguna yang mengandalkan NAS untuk streaming media.
2. Kebijakan Ekosistem yang Restriktif
Keputusan manajemen Synology dalam beberapa tahun terakhir dianggap terlalu “berani” dan mengecewakan pelanggan setianya. Salah satu poin yang paling memicu kemarahan adalah kebijakan pada seri NAS 2025 yang mewajibkan penggunaan hard drive bermerek Synology atau yang telah tersertifikasi untuk mendapatkan fitur penuh.
Tanpa drive resmi tersebut, fitur-fitur krusial seperti analisis kesehatan drive dan pemutakhiran firmware mungkin tidak tersedia, yang menurut sebagian pengguna membuat sistem tersebut menjadi tidak berguna. Meskipun kebijakan ini sempat dilunakkan, kepercayaan pengguna lama sudah terlanjur goyah.
3. Fleksibilitas dan Kebebasan “Home Lab”
Bagi para antusias teknologi atau pengguna home lab, fleksibilitas adalah segalanya. Kompetitor baru memberikan kebebasan yang selama ini dibatasi oleh Synology:
- Penyimpanan NVMe: Synology umumnya membatasi slot NVMe hanya untuk cache, sementara kompetitor mengizinkan NVMe digunakan sebagai pool penyimpanan SSD penuh.
- Sistem Operasi Alternatif: Perangkat dari kompetitor seperti Ugreen memungkinkan pengguna untuk melakukan booting ke sistem operasi lain seperti Unraid atau TrueNAS, memberikan fleksibilitas jangka panjang jika pengguna bosan dengan OS bawaan.
- Konektivitas I/O: Dukungan untuk port Thunderbolt 4 dan USB 3.2 Gen 2 yang lebih banyak memberikan keunggulan telak bagi kompetitor dalam hal konektivitas langsung.
4. Kemajuan Perangkat Lunak Kompetitor
Meskipun DiskStation Manager (DSM) milik Synology tetap menjadi standar emas dalam hal kehalusan antarmuka dan kelengkapan aplikasi, kompetitor mulai mengejar dengan cepat.
Salah satu inovasi yang menarik perhatian adalah kemudahan setup melalui aplikasi seluler. Di perangkat kompetitor, pengguna dapat melakukan seluruh proses inisialisasi—mulai dari pembuatan RAID hingga pengaturan pengguna—hanya melalui ponsel tanpa perlu membuka laptop sama sekali.
Kesimpulan
Transisi ini bukan berarti Synology adalah produk yang buruk. Bagi pengguna yang menginginkan solusi turnkey yang stabil dan sangat mudah digunakan, Synology tetap menjadi pilihan utama. Namun, bagi mereka yang memprioritaskan nilai investasi (value for money), performa tinggi, dan kebebasan kustomisasi hardware, tawaran dari kompetitor baru kini menjadi pilihan yang sulit untuk diabaikan.
Pada akhirnya, pasar NAS kini tidak lagi hanya tentang polesan perangkat lunak, tetapi tentang siapa yang bisa memberikan tenaga mentah (raw power) terbesar untuk pertumbuhan data pengguna di masa depan.

