
Berita tentang Google yang mengganti judul-judul berita dari berbagai media dengan versi AI-nya sendiri di feed konten telah menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan penerbit. Meskipun sempat muncul indikasi bahwa Google akan menarik eksperimen ini, perusahaan teknologi raksasa tersebut kini menyatakan bahwa fitur judul AI di Google Discover ini adalah bagian dari strategi mereka yang “berkinerja baik untuk kepuasan pengguna.” Namun, banyak pengamat dan jurnalis, termasuk tim di The Verge, terus menemukan klaim yang menyesatkan setiap kali mereka memeriksa ponsel mereka.
Anatomi Masalah: Judul AI yang Menyesatkan
Situasi ini diibaratkan seperti sebuah toko buku yang mengganti sampul buku yang dipajang — hanya saja, “toko buku” di sini adalah tab berita di ponsel Samsung Galaxy atau Google Pixel, dan “sampul” adalah kebohongan yang dihasilkan AI alih-alih kebenaran. Masalah utama terletak pada hilangnya kendali penerbit atas representasi konten mereka sendiri dan potensi penyebaran informasi yang tidak akurat.
Serangkaian Contoh Judul AI yang Tidak Akurat
Banyak kasus menunjukkan betapa bermasalahnya judul-judul AI ini:
- AI Google mengklaim “AS membatalkan larangan drone asing,” mengutip dan menautkan ke cerita PCMag. Ironisnya, artikel PCMag itu sendiri justru menjelaskan bahwa klaim tersebut tidak benar. Jim Fisher, penulis PCMag, menyatakan “Ini membuat saya merasa tidak enak” dan mendorong pembaca untuk mengklik dan membaca cerita lengkap daripada mempercayai apa yang disajikan Google.
- Google AI pernah menyatakan “Detail harga & HDMI Steam Machine muncul” pada 26 Desember, padahal informasi tersebut belum ada.
- Contoh lain termasuk klaim “ASUS ROG Ally X tiba” pada 11 Januari, padahal perangkat tersebut telah hadir berbulan-bulan sebelumnya.
- Bahkan ada insiden di mana AI mengklaim tentang “Teknologi 3D tanpa kacamata memukau,” memperkenalkan “Teknologi 3D baru bernama Immensity dari Leia” tetapi menautkan ke artikel TechRadar tentang perusahaan yang sama sekali berbeda, Visual Semiconductor.
- Kasus lain melibatkan klaim tentang pembuat GPU yang mengomentari kelangkaan RAM, tetapi menautkan ke cerita Digitimes tentang pembuat RAM.
Respon Google dan Kecaman dari Publisher
Google mengklaim bahwa mereka tidak menulis ulang judul, melainkan mengkategorikan penawaran baru ini sebagai “topik yang sedang tren.” Meskipun setiap “topik yang sedang tren” disajikan sebagai salah satu cerita dari penerbit, menautkan ke cerita mereka, dan menggunakan gambar mereka, tidak ada pemeriksaan fakta yang kompeten untuk memastikan keakuratan AI.
Para penerbit, termasuk The Verge, merasa sangat frustrasi ketika melihat judul-judul yang menyesatkan ini muncul pada cerita mereka sendiri. Mereka khawatir hal ini merampas kemampuan mereka untuk memasarkan karya secara efektif. Beberapa contoh spesifik dari judul yang diubah AI Google yang dinilai kurang tepat oleh publisher meliputi:
- Cerita Jay Peters tentang monitor OLED stripe RGB diringkas oleh Google menjadi judul yang lebih datar: “Monitor Gaming OLED Baru Hadir.”
- Cerita tentang demo 3D Lego Smart Brick di CES diubah menjadi “Lego Smart Play Diluncurkan 1 Maret,” sebuah tanggal yang sudah bukan berita pada saat Google menulis itu.
- Bahkan cerita penghargaan besar Verge Awards di CES 2026 diiklankan sebagai “Robot & AI Ambil Alih CES,” yang justru kebalikan dari kesimpulan cerita aslinya.
Penjelasan Google dan Implikasi yang Lebih Luas
Juru bicara Google, Jennifer Kutz, menjelaskan bahwa fitur ini diluncurkan tahun lalu di Discover untuk membantu orang menjelajahi topik yang dicakup oleh banyak kreator dan situs web. Fitur ini mencakup “ikhtisar topik yang didukung AI yang bermanfaat, gambar unggulan, dan tautan ke cerita terkait.” Kutz menekankan bahwa “judul ikhtisar mencerminkan informasi di berbagai situs, dan bukan penulisan ulang judul artikel individu.” Google mengklaim fitur ini “berkinerja baik untuk kepuasan pengguna” dan mereka terus bereksperimen dengan UI. Namun, Google menolak permintaan wawancara untuk menjelaskan lebih lanjut konsep ini.
Meskipun ada beberapa perbaikan kecil, masalah mendasar tetap ada: AI Google tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang bagian mana dari cerita yang baru, relevan, signifikan, atau benar, dan dapat dengan mudah membingungkan satu cerita dengan cerita lainnya. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada Google Discover, tetapi juga terlihat dalam notifikasi push yang menautkan ke chatbot Google Gemini yang mencoba meringkas berita.
Situasi ini menyoroti perlunya konsumen berita untuk lebih kritis dan langsung mengunjungi situs web penerbit untuk mendapatkan informasi yang akurat dan lengkap, daripada hanya mengandalkan perantara AI. Keakuratan informasi dan integritas jurnalistik harus tetap menjadi prioritas utama di era digital.

