Aisengna dan Strategi China

Aisengna dan Strategi China Lepas dari Cengkeraman ASML dalam Perang Chip Dunia

Kemunculan Shanghai Aisengna memicu guncangan bagi ASML. Simak bagaimana China membangun mesin litografi DUV mandiri untuk mengurangi ketergantungan teknologi Barat.


Industri semikonduktor global gempar ketika laporan Reuters menyebut sebuah perusahaan misterius asal China, Shanghai Aisengna Electronic Technology Group, kini memimpin produksi mesin fotolitografi immersion DUV buatan dalam negeri. Meskipun baru berusia tiga tahun, tidak memiliki situs web, dan nyaris tidak pernah tampil di publik, kabar keberadaan Aisengna langsung membuat saham produsen mesin litografi raksasa asal Belanda, ASML, merosot hingga 10% dan menguapkan nilai pasar sebesar lebih dari 60 miliar euro hanya dalam dua hari.

Mengapa perusahaan yang begitu tertutup bisa menciptakan kepanikan pasar sebesar itu? Jawabannya terletak pada perang dingin teknologi dan ambisi China untuk melepaskan diri dari ketergantungan pasokan Barat.


Siapa Shanghai Aisengna dan Mengapa Mereka Begitu Misterius?

Didirikan pada Agustus 2023 dengan modal terdaftar sekitar 7 miliar yuan (sekitar 1 miliar dolar AS), Aisengna dimiliki oleh entitas milik negara seperti Shanghai Electric Holding dan entitas di bawah Shanghai International Trust. Tanpa rekam jejak publik, Aisengna menghimpun kekuatan dengan merekrut tim dari pemain litografi domestik berpengalaman seperti Yuliang Sheng dan SMIC, yang berafiliasi dengan pabrikan peralatan semikonduktor Si Carrier di dekat Huawei.

Pada September 2025, SMIC mulai menguji mesin DUV immersion buatan Yuliang Sheng untuk kelas 28 nanometer dengan teknik multi-patterning guna mencapai pemrosesan tingkat 7 nanometer. Walau sebagian komponen masih berasal dari luar negeri, mayoritas komponen mesin tersebut sudah dipasok dari dalam negeri.


Mengapa Litografi Menjadi ‘Benteng Terakhir’ China?

China sebenarnya telah mencatatkan kemajuan pesat di industri peralatan chip lewat perusahaan seperti Naura dan AMEX untuk pembersihan wafer serta pengikisan material. Namun, fotolitografi—proses mencetak pola sirkuit berpresisi ekstrem di atas wafer—tetap menjadi bagian paling sulit dan krusial.

Selama ini, ASML mendominasi teknologi fotolitografi dunia, khususnya mesin Extreme Ultraviolet (EUV) yang digunakan untuk memproduksi chip paling canggih. Namun, geopolitik mengubah peta persaingan:

  • Sanksi AS dan Belanda: Sejak 2019, ASML dilarang menjual mesin EUV ke China. Belanda kemudian memperketat ekspor mesin DUV immersion, bahkan membatasi akses suku cadang (spare parts), pembaruan perangkat lunak, dan perawatan mesin.
  • Tingginya Biaya Solusi Alternatif: Tanpa EUV, produsen chip China seperti SMIC terpaksa memakai mesin DUV dengan teknik multi-patterning. Sebagai contoh, produksi chip 7nm pada Huawei Mate 60 memerlukan sekitar 34 langkah litografi dengan DUV, dibanding hanya sekitar 9 langkah jika menggunakan EUV. Hal ini menambah waktu produksi, pemborosan material, dan pembengkakan biaya per chip.

Akibatnya, risiko geopolitik kini mengalahkan perhitungan efisiensi bisnis murni. Pabrik chip di China tidak lagi sekadar bertanya soal efisiensi, melainkan apakah mesin mereka masih bisa diperbaiki dan diperbarui dalam lima tahun ke depan jika hubungan politik memburuk.

Membangun “Mesin Belajar” Domestik

Menciptakan tandingan ASML bukanlah perkara mudah. Satu mesin EUV milik ASML terdiri dari sekitar 100.000 komponen yang disokong oleh kurang lebih 5.000 pemasok global. Keunggulan ASML lahir dari ekosistem dan pengalaman operasional selama puluhan tahun di berbagai pabrik chip dunia.

Sebaliknya, Aisengna saat ini baru menargetkan pengiriman sekitar 5 mesin pada tahun 2026 dan 20 mesin pada 2027. Bandingkan dengan ASML yang mengirimkan 131 mesin DUV immersion hanya dalam tahun 2025 saja. Selain itu, proyek EUV China masih berada pada tahap prototipe dan belum mampu menghasilkan chip fungsional.

Namun, China memanfaatkan strategi khusus untuk mempercepat pembelajaran:

  1. Dukungan Modal dan Kebijakan Procurement: Pemerintah China meminta pembuat chip yang memperluas kapasitas untuk menunjukkan penggunaan peralatan domestik sekitar 50%.
  2. Akses Langsung ke Pabrik Utama: Mesin awal Aisengna ditempatkan langsung di pabrik skala besar seperti SMIC, Hua Hong, dan CXMT. Lingkungan produksi riil ini memberi insinyur data krusial untuk menemukan kelemahan dan menyempurnakan mesin.

Mengubah Definisi “Pilihan Terbaik”

Bagi China, Aisengna tidak harus mengalahkan performa atau presisi ASML untuk menjadi sangat penting.

Jika pabrik chip di China dihadapkan pada pilihan antara mesin ASML yang lebih cepat namun berisiko terputus akibat sanksi, versus mesin lokal yang mungkin lebih lambat namun pasokannya terjamin dari dalam negeri, kepastian pasokan menjadi prioritas utama.

Jika pabrik-pabrik chip domestik mulai mengalihkan pembelian mereka ke pemasok lokal, dampaknya sangat besar bagi ASML. Pada tahun 2025, pasar China menyumbang sekitar 29% dari total penjualan ASML dengan nilai mencapai 9,5 miliar euro.

Persaingan chip dunia kini bukan lagi soal kapan China bisa membuat mesin yang persis secanggih ASML, melainkan seberapa layak mesin buatan China agar operasional pabrik domestik tetap berjalan tanpa bergantung pada pasokan ASML.

Sumber: China vs Belanda: Babak Baru Pertarungan Chip Dunia
Dr. Indrawan Nugroho 1.12M subscribers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *