
Meningkatnya Penggunaan Smartwatch di Amerika
Lebih banyak orang Amerika daripada sebelumnya yang menggunakan perangkat pintar yang menjanjikan hidup lebih sehat. Baik itu Apple Watch, Garmin, Fitbit, Samsung Galaxy Watch, atau Oura Ring, teknologi wearable dapat melacak detak jantung, olahraga, kualitas tidur, dan tingkat stres.
Pertumbuhan ini tercermin dalam studi terbaru yang diterbitkan di jurnal NPJ Digital Medicine. Peneliti dari Yale School of Medicine menganalisis data survei kesehatan nasional dari 2020 hingga 2024 dan menemukan kepemilikan perangkat wearable di kalangan orang dewasa AS meningkat 36,1%, mencapai 41,1% pada tahun 2024.
Apa Kata Dokter tentang Kepercayaan Data?
Dr. Sos Mboijana, dokter penyakit dalam di Kaiser Permanente, mengatakan bahwa ia sering mendapat pertanyaan dari pasien: “Bisakah saya mempercayai data ini?” Menurutnya, pertanyaan itu sebenarnya berfokus pada apakah informasi tersebut dapat meningkatkan kesehatan mereka, bukan pada gadgetnya sendiri.
Ia melihat minat yang berkembang sebagai tanda positif. “Ketika pasien datang seperti ini, mereka adalah pasien yang terlibat, tertarik melacak status kesehatan mereka. Itu sudah kemenangan,” katanya.
Skor Tidur: Menarik tapi Bukan Diagnosis Medis
Banyak smartwatch dan smart ring kini memberikan skor tidur malam berdasarkan durasi dan waktu di berbagai tahap tidur. Dr. Mboijana menekankan bahwa skor tersebut harus dilihat sebagai umpan balik pribadi, bukan pengukuran medis.
“Skor tidur akurat dalam melihat data tidur, tetapi untuk memvalidasinya sebagai alat medis, kita belum sampai di sana,” jelasnya. Algoritma kepemilikan dari setiap perusahaan membuat dokter tidak dapat mengandalkannya untuk diagnosis.
Namun, beberapa fitur telah divalidasi secara klinis, seperti fungsi EKG (elektrokardiogram) yang disetujui FDA pada beberapa smartwatch dan monitor glukosa kontinu untuk penderita diabetes.
Fokus pada Tren, Bukan Satu Malam Buruk
Alih-alih khawatir tentang satu skor tidur, Dr. Mboijana menyarankan untuk melihat pola dari waktu ke waktu. “Gunakan perangkat dalam jangka panjang dan lihat tren. Ini semua tentang tren,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa memakai perangkat baru dapat memengaruhi tidur sementara karena kesadaran sedang dipantau. Beri waktu untuk menyesuaikan diri, lalu analisis perubahan seperti olahraga larut malam, konsumsi alkohol, atau perjalanan.
Bisakah Dokter Menggunakan Semua Data Itu?
Studi Yale menemukan bahwa sebagian besar pengguna wearable bersedia berbagi data dengan dokter, tetapi hanya sedikit yang benar-benar melakukannya. Dr. Mboijana mengatakan sistem kesehatan masih belajar mengelola data tersebut.
“Tantangannya adalah apa yang harus dilakukan dengan semua data ini? Bagaimana mengaturnya agar bisa diserap ke dalam catatan kesehatan elektronik?” ujarnya. Ia percaya kecerdasan buatan (AI) akan membantu menganalisis data wearable secara efisien di masa depan.
Tips Memilih Wearable yang Tepat
Dengan banyaknya pilihan jam tangan, cincin, dan pelacak kebugaran, Dr. Mboijana menyarankan untuk memulai dengan pertanyaan: “Apa tujuan Anda?”
- Apakah ingin menurunkan berat badan?
- Memantau kesehatan metabolik?
- Berlatih untuk maraton?
Ia merekomendasikan berkonsultasi dengan dokter primer sebelum membeli, karena harganya bisa mencapai ratusan dolar. “Jangan mulai dari situs web produsen, Anda akan tersesat,” katanya.
Masa Depan Kesehatan Wearable
Peneliti Yale mengatakan perangkat wearable berpotensi menjadi bagian penting dari perawatan pencegahan. Dr. Mboijana setuju: “Kita bergerak dari sekadar pelacak menjadi monitor fisiologis yang lebih canggih.”
Untuk saat ini, sarannya sederhana: jangan terobsesi dengan satu skor tidur atau detak jantung. Gunakan perangkat untuk memahami pola Anda, tetap terlibat dengan kesehatan, dan bawa tren jangka panjang ke dokter. Di situlah nilai terbesar teknologi wearable saat ini—dan inovasi masa depan akan membuat perbedaan yang lebih besar.

